elumami

Kamis, 24 November 2022

alunuha


بسم الله الرحمن الرحيم
Proses isolasi yang panjang , kami hnya keluar beberapa waktu untuk beberapa kali pertemuan. sedangkan grafik program senantiasa berjalan sesuai alur, dengna jalur masng - masing, menembus proses seluruh kapasitas program yang diketenganhkan, inilah KBM bebas penuh aturan. diberikan kebebasan sepenuhnya, apapun bakat dan minat, akan cepat berlipat. setiap program memiliki keunggulan, dan keunggulan dari sistem ini ialah lipatan percepatan bagi santri dan murit yang bersunguh - sungguh. hanya dengan komitmen yang kuat dengan integritas yang tinggi diharapkan segera terinstal penuh. 
jalaln santri untuk futuh sungguh amat panjang, tidak semua sampai, sesuai kapasitas dan proporsi masing - masing santri, sama'nwathoatan sabagai modal dasar dengan terus berusaha. Seorang murobbi tentu ngerti akan kondisi muridnya. beliau senantiasa memberikan kebebasan dalam berfikir dan bertindak dengan tidak meninggalkan kemempengannya, sesuai azas adat ulama'. setelah santri teranugrai husnudzon pada murobbi, ia akan menemukan bahwa betapa bahagianya menjadi santri. sebagai prioritas murobbi seyokyanya santri juga mengerti mencurahkan perhatian untuk tholabul ilmi juga merupakan prioritas utama. dengan positif tingking, penurut akan mengantarkan santri meraih ridlo Ilahi.
Berada dalam kurun pertama, masih bisa menyaksikan Muasis secara langsung ialah potensi besar untuk meraih drajat yang tinggi. Dengan proses yang telah beliau bangun dengan penuh kesungguhan, komitmen dan kontinyuwitas. kebahagiaan Muasis ialah kemampuan santri dalam belajar dan memahami kitab - kitab kuning. dengan keihlasan penuh ketulusan Muasis mampu menembus batas, demikian santri tentu tidak akan mustahil unguk menciptakan hal baru, tampa meninggalkan kebiasaan lama. 
Al umamai sebagai unit muda yang berkembang, bentuk apresiasi Muasis untuk kalangan pemuda untuk berkarya, memberikan peluang sebesar - besarnya, menumbuhkembangkan bakat, ilmu dan pengetahuan sepenuhnya. Cita - cita yang sungguh mulya. kreatifitas tampa batas Muasis dan Gawagis meliputi fasilitas. demi berlangsunggnya seluruh kegiatan dan  aktifitas ini seyokyanya dirawat dan dijaga dengan penuh seksama.
Menggiggat, menimbang dan kemudian memutuskan, bahwa sudah sangat panjang perjalanan Muasis dalam prosesi system menejemen ini. Keniscayaa npotensi  dalam terselenggaranya keberhasilan untuk panen ialah hal yang sangat munggkin. Sudah waktunya Muasis dan para sahabat menyaksikan cita — cita beliau terlaksana dan terselenggara.
Totalitas Muasis semoga segera tertanam dalam kalangan pemuda. Menjadi pribadi — pribadi Muasis yang baru. Muasis yang senantiasa mewujudkan cita — cita santri, dengan tekun mengaji dan ngabdi. Dengan lebih sepesifik bahwa trobosan Muasis dalam globalisasi system internal, to good and efetion system. Sebagai tokoh islam, beliau akan senantiasa mengakselerasi, mengamati dan meneliti semua gejolak dampak perubahan yang ada, dan kemudian memberikan solusi, dengan menata rapi menejemen pendidikan, ekonomi serta keseimbangan alam, diharapkan akan terwujud baldatun thoyibatun wa Robbun gofur.
Kegigihan Muasis tentu tidak lepas dari Itiqod beliau yang tinggi. Kepercayaan diri beliau seolah tidak terhenti, karena langsng bersumber dari Sang beberi sepirit. Kesabaran serta ketulusan beliau murni Itiqot dengan berbagai bentuk amaliayah, wabil khusus dalalm hal talim wa taalum sebagai ruhul Mahad.
Harapan beliau ialah gawagis, guru — guru dan para santri, yang akan melanjutkan estapet beliau dunyawi ukhrowi. Setelah sekian lama pendidikan belau kepada gawagis sampai mampu mengemban amanah masing — masing dengan sinerji. Menjadi seorang Pembina yang berhidmah denangan santri dan masyarakat, tentu tidak mudah, penuh keluh — kesah yang tidak pernah terutara, demi pengabdian terhadap nusa dan bangsa yang murni, Bahkan beliau — beliaulah yang menjadi curhatan umat setelah Muasis.
Diantara Gawagis mungkin guse memiliki tugas yang kompleks, membaur dengan masyarakat luas, ini bukan tugas yang mudah, juga mengelola Asrama syarat dengan komplikasi kepengurusan. Beliau memang sudah terbiasa akan hal remeh temeh. Bahkan ia tidak memperdulikan reputasi. Ketaatanya kepada muasis mejdadi penguat, untuk membangun asrama dan beristri, sepulang dari tholabul ilmi dari luar negri. Hausnya akan ilmu belum terobati, namun ketaatan kepada murobbi menjadi obsi. Betapaun guse memiliki rencana namun Muasis memiliki tencana diatas rencana dan guse ngerti hal itu. Seberapa kuat keinginan santri harus selaras dengan tujuan Muasis sebagai pengayom umat, karena nahkoda tentu lebih ngerti arah tujuan prahu.
Membangaun Asrama bersama, sebagai lahan tasyarufil ilmi ialah tempat yang sangat efiktif dan efetion untuk menumbuk kembangkan ilmu guse, mengaplikasikan ilmu yang telah Muasis berikan,  berupa kemandirian dengan bertani dan beternak dengan luwes, meski lulusan luar negeri, namun tidak gengsi untuk terjun kemedan lumpur, yang telah Muasis rintis. Inilah awal dari proses yang panjang. Semangat baru, ilmu baru dengan kemasan baru, sangat tepat untuk saat ini, dimana semua serba cepat dan tepat.
Sudah menjadi tradisi ulama akan penyederhanaan bahasa untuk mentransfer sebagian ilmu. The riel syafaat baik quliyah ataupun amaliyah, lisan dan tulisan, nahwu, shorof, Ilal hingga mana gandul untuk meringankan umat dengan kultur masyarakat yang beragam. 
Dengan kapasitas santri masa kini, disini guse khidmah kaliyan mbah yai, penuh perhatian, perlahan merubah menset santri akan esensi nyantri. Membimbing santri sedari awal, itu akan lebih mudah dari pada membenahi. Dan disinilah sekil seorang gos akan tampak, dalam menuntaskannya, dari santri nylekutis, santri mbeling semua tunduk. Dengan metode akademik, asah intelektual serta asal emotional sepiritual, syarat dengan kurikulum pesantren dan kurikulum umum. Dengan harapan segudang ilmu beliau, perlahan meresap kedalam sanubari santri, tentu sesuai kapasitas CPU dan ram masing — masing santri, bahkan hingga melekat erat menjadi karakter.
Dengan bekal dunyawi — ukhrowi, ilmu agama yang dibekali akademi pesentren, serta kepiawaiyan santri dalam berorganisasi akan menambah berkah ilmu santri. Seolah - olah apa yang telah semua beliau berikan itu hanya cuma — Cuma. Inilah yang membuat santri menjadi semakin yakin dan dekat dengan beliau. Sebagai lembaga otonom, Muasis ingin Guse dan dewan asatid memiliki lembaga pengembangn bakat, yang bisa meberi inkam Asrama. Untuk itu beliau membekali santri — santri dengan ilmu perikanan, ini ialah tahapan dari beberapa uji coba beliau. Dengan antusias Guru — guru dan santri — santri mengikuti kegiatan ini. Dengan penuh harapan mampu memenuhi kebutuhan financial. Dan ini ialah lahan kreasi baru untuk berkarya, menujukkan kreatifitas tampa batas, kesempatan besar untuk meraih cita - cita bersama.
Menyaksikan kebahagiaan guru dan santri bagi muasis ialah keniscayaan akan kemempengan dalam KBM. Terpancar penuh percaya diri santri — santri mengenakan sragam, nampaknya mereka sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan sesi pelatihan ini, laksana baju kebesaran santri, nyala semangat 45. Keberhasialan akan segera nyata dengan potensi yang sangat menjanjikan, ini akan tercatat dalam sejarah inofasi Pesantren. Dengan system perikanan diharapkan tidak begitu memberatkan. Efektif san efetion baik waktu atau tenaga, sehingga guru dan santri akan mampu memaksimalkan KBM. Ngaji dadi penuh arti, riang gembira santri memberi makan ikan ialah hiburan tersendiri hingga puncaknya memanen ikan juga pemandangan yang mengesankan penuh kesinambungan.
Semua ini tidak lengkap kiranya tampa kehadiran seseorang pendamping, yang bisa mejadi bagian dari perjalanan perjuagan. Untuk itu Muasis telah menyiapkan sang permaisuri untuk guse, sebagai bentuk ikhtiyar belaiu. Jodoh ilah pilihan dan Allah SWT. Yang akan menentukan.
Ini ialah awal dari sederetan perjuangna guse dalam berkhidmah. Menjadikan mahar untuk modal, berasas tawakal, bersandar kepada sang maha Kekal. Sungguh tekat yang luar biasa, sederhana namun mampu menghedel semua, tidak hanya akutansi namun kepercayaannya kepada Gusti mampu member properti. Namun kebiasaannya hidup sederhana senantiasa menghiasi kepribadiannya, dengan dibekali beberapa santri, dalam bakti kepada mbah yai dan negri. Inilah yang menjadi prosesi baru denga ruang yang sama. Menjadi rutinitas baru karena lahirnya Asrama baru sebagai ribat Nurul Huda yang tentu akan melahirkan peradaban baru tampa meninggalkan kebisaan — kebiasaan lama tentunya. Akselerasi rutinitas inilah yang menempa guse sebagai Pembina dalam menciptakan tatanan yang sesuai dengan local. Sekil kegusan perlahan muncul berkat ketekunan beliau nyantri. Karena untuk menyingkronkan bebrapa pemikiran itu sulit, apalagi mensinergikan beberapa elemen. Dan belaiu mampu mengemban ini. 
Kesejahteraan santri amat di prioritaskan, meski perikanan tidak terlalu memberikan inkam, namun guse tidak berhenti disini. Dan lagi — lagi belaiu menunjukan jati diri sebagai gus. Memberikan solusi akan kefakuman. Beliau yakin akan seribu potensi sebuah lahan dan SDM. Akan senantiasa berkembang, dan membungkusnya kembali dengan sedikit inofasi, akan memutar kembali roda kreatifitas, dengan mendatangkan bibit itik sebagagi modal dasar sarat dengan SDM. Seorang yang mampu mengelola unuk membimbing santri — santri dalam mengelola. Sehingga tidak butuh waktu lama budidaya itik ini tumbuh, dan beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya ini telah menjadi sholusi akan kesenjangan santri dalam mengembangkan kemampuan santri, yang telah berlangsung berabad — abad, dimana ketidak mampuan santri dalam financial, tidak menjadi penghalang untuk terus ngaji dan belajar, tetap bersekolah dalam pesantren dengan khidmah kalian mbah yai. Sudah tidak zamanya seorang santri yang putus ngaji ata siwa yang putus sekolah, semau sudah tersistem rapi, dalam melayani santri — santri yang ingin mengaji dan sekolah. Dan tidak memaksa santri dalam berkidmah, meski kurang berhasil dalam menejemen peritikan, belau tidak berhenti disini, dengan seribu potensi lahan bumi pertiwi, Guse masih memiliki banyak cadangan inspirasi, membuka lahan pekerjaan santri, menanam buah melon, juga masih guse jalani dengan daya dan upaya, mendatangkan tehnisi mengurusi dan melayani penuh keilasan dan kesabaran demi kesejahteraan santri dengan senantiasa memberikan pengetahuan dan ilmu gratis.
Mencoba terus berjalan, seiring berjalalnya waktu, berjalan sesuai jalur masing — masing sekil. Bersama sederetan proses santri, semua telah mendapatkan potensi masing — masing sesuai sekil yang telah mereka tekuni dalam jangkauwan guse. Berkah dari berkhidmah, potensi mereka jadi berlimpah ruah, hingga menyelesaikan sebagian tugas yang telah diberikan, sesuai kapasitas.
Sebagian ilmu telah guse ternsfer dengan baik, untuk menurunkan ilmu yang lebih tinggi guse harus menunggu kesiapan mereka, menunggu kematangan dan kemapanan mental demi kesinambungan ikhtiar beliau untuk mendidik, mentarbiyah serta membibing santri — santri tampa kenal lelah.
Kiranaya santri — santri akan mencoba bersepekulasi, menyatakan kesiapan dalam membangun sebuah usaha, guse juga supot dengan inisiatip itu, dengan memberikan financial langsung, dengan harapan mampu digunakan dengan semaksimal mungkin. Karena ini projek yang cukup serius terkait kapasitas santri akan keperluan financial yang langsung diberikan Guse. Mungkin ini akan mejadi rekor Nationla. Sebuah lompatan dalam penempaan jiwa interpenur santri. Dan semoga kesiapan santri unuk menerima ilmu yang lebih tinggi akan terrealisasi.
meski projek ini belum sesuai dengan harapan, namun beliau tidak berhenti, masih banyak projek — projek yang lain. Dengan lahan seribu potensi, berbekal sederetan pengalaman yang belum juga cuan. Kiranya santri — santri harus sekolah lagi, demi terciptanya SDM yang hakiki. Dengan penuh optimis Guse menyuruh mereka uanguk belajar lagi, dengan mengikuti kursus dan diklat. Semoga dengan bekal ilmu yang cukup dan kemamtapan jiwa, bisa mengoptimalkan sebuah pekerjaan.
Memberikan keyakinan yang benar akan khidmah, menumbuhkan jiwa patriot, bahwa khodmah bukan untuk financial pribadi melainkan untuk kesejahteraan umah, sehingga dapat menguatkan semagat ketekunan santri dalam ngaji. Inilah keunikan pesantren, dengan literasinya, yang hanya seorang kiyailah yang mampu mengemban tugas ini. Beserta ilmunya yang telah beliau amalkan. Hanya seorang ulama yang telah diberi anugrah mampu mengemban amanah keilmuannya. Untuk itu, ilmu yang dihasilkan harus murni. Dengan ini pesantren akan abadi.
Pesentren memiliki hazanah khusus, system khusus, sehingga kehasan pesantren hanya bisa terliterasi, untuk mendampingi peradaban zaman. Santri sebagai mediasi mbahyai kiranya segera memantapkan diri, sesuai kapasitas masing — masing sntri. Dengan sederetan pengalaman, dan terus mencoba mengepaskan.
Mensinerjikan kekuatan international dan local. Dengan keilmuan beliau — beliau telah melewati beberapa prose, yang telah disusun oleh Masayikh, pimpinan pondok pesantren, komitmen poro yai dan Habaib demi eksistensi pesantren. Sungguh ini program yang amat besar, untuk menerima ilmu ini perlu kesiapan intelektual dan emotional. Dengan kemantapan pesantren local dan pesantren international sebagai jalinan silaturrahmi. Dengan dua kekuatan ini diharapkan mampu bersama —sama mengeksistensikan Pesantren, menjawab tantangan zaman.  
Dimana semua menuntut serba cepat, tepat dan efetion. Indonesia dengan beragam budaya yang tetap dilestarikan dalam pesantren, eksotis dan dinamis, membaru dengan kultrur mewarnai corak kehidupan masyarakat madani, bersinergi dengan kekuatan  pendidikan Tarim yang memiliki kedekatan sanat keilmuan dengan Indonesia ialah kombinasi yang akan menciptakan akselerasi baru, yang perlahan guse tanamkan. Dalam prakteknya sama — sama menyalurkan ilmu salafuna sholeh, menyederhanakan untuk kalangn masyarakat luas, ialah kebiasaan paraa ulama sebagai bentuk rahmatan lilalamin.
Untuk itu Muasis membuat Syarah Alfiyah ibnu Malik, di tengah — tengah kseibuakan beliau, padahal tugas ini sangat berat, namun demi terciptanya cita - cita yang luhur, membantu santri — santri Indonesia, terkhusus santri Sumatra dalam mempermudah dalam memahami ilmu Agama. Bila Habib Umar Alhafiz mashur dengan maulidnya, Muasis akan eksis dengan syarah alfiyahnya. Dua konektifitas selaras, nampaknya Indonesia enggan tinggl maulid dan haus akan ilmu para ulama. Perjalanan yang beriringi simponi, karya sastra yang tinggi dan dilantunkan dengan iringan nada has Indonesia, akan menciptakan masyarakat yang harmoni, berpendidikan dan bermartabat,  nationalis dan patriotis, mencintai Habaib dan poro yai dan ulama.
Semoga beliau — beliau senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SAW. Dalam membimbing umat, karena tidak semua ulama menjadi mualif yang meluangkan waktu untuk umatnya. Dengan karya yang fenomenal tentu dengan upaya optimal, sehingga mampu memberikan optimisme pada generasi muslim selanjutnya dalam beragama dan terus mempelajari ilmu agama. 
Dalam proses penyederhanaan pemahaman dengan berbagai literaatur telah diupayakan dengan maksimal dan optimal. Proses mualif dalam membuat kitab tentu sangatlah sulit ketimbang membaca dan memahami. Sedangkan beliu — belau mampu mengemban amanah ini. Untuk itu para ulama dan habaib senantiasa mengkader santri — santri dengan mengaji dan mengkaji, demi terciptanya santri yang hakiki, untuk bersama sama menjadi rahmatan lilalamin, dengan menyederhanakan bahasa kitap dan bersama — sama mengaplikasikanya, sebagai bentuk khidmah umah. Dengan system yang sama, mampu menghasilkan karya tulis yang berbeda. Inilah ulama, dengan prosesi pendidikan pesantren yang sama mampu menghasilkan lulusan yang berbeda bahkan muasisi bersetetmen, menjamin kualitas santri — santriya, dengan sayarat harus mempeng dalam menyelesaikan setiap jengang pendidikan. 
Untuk itu gawagis dan asatiz berusaha untuk terus mengembangkan inisiatif positif muais, dengan pola yang sederhana namun tetap mengena. Memulai berjuang bersama tentu tidak mudah, namun dengan optimis Muasis untuk meneruskan program masyaikh, memberikan semagat baru, untuk menjadi lembaga pendidikan yang mandiri dengan menggali berbagai potensi. Membekali satri — santri dengan ilmu dan financial. Berkorban jiwa dan raga, meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran.
Inilah sederetan proses yang telah Guse lakoni, dengan ketekunan. Dengan kapasitas Pesantren yang mencapai santri ribuan, kiranya sangat butuh percetakan untuk segala macam kebutuhan terutama dalam pembukuan. Untuk itu belau membuat lembaga percetakan, yang langsung dikelola santri, dengan ilmu yang telah dibekali. Ini akan sangat berpotensi dan bersinergi dengan perubahan STKIP. Menjadi Unifersitas, memberikan peluang kepada mahasiswa atupun mahasantri, untuk mencetak karya — karyanya. Inilah era dimana santri dapat mencipta karya tulis dengan sangat mudah. Menjadi Nurul Huda yang berkualitas, mempu berinofasi dan menjawab tantangan zaman, mampu memecahkan persoalan national dan menjalin hubungan International.
Jalinan hubungan international yang telah dirintis oleh Muasis dan Masayikh senantiasa dijaga oleh Gawagi san santri — santri demi terciiptanya perdamaiyan duniya. Untuk itu pilar — pilar kebangsaan senantiasa berkibar dengan mengebatkan sayap garuda. Indonesia dengan seribu potensi, bercombain dengan ulama international diharapkan akan menjadi Negara yang lebih kuat dan bermartabat. Legititimasi yang telah dibangun berabad oleh para ulama akan senantiasa terjaga. Inilah cita — cita Masayikh dan gawagis.
Dengan Al Quran sebagai bahasa international, Indonesia sebagai mana gandul, menjadi wacana dunia akan rahmatan lilalamin. Keistimewaan bahasa Arab karena berkaitan erat dengan Al Quran, sehingga berkembang pesat ilmu pengetahuan, begitu pula Indonesia akan berkembang pesat dengan Pancasila menyinari dunia. Untuk itu tidak henti — hentinya cendikiyawan muslim Indonesia mempelajari dan meneliti karya ulama — ulama National, yang menjadi asas Pancasila yang kemudian diusung untuk menjadi sebagian dari asas peradaban dunia, menentukan tatanan peradaban duniya yang baru.
Yang jelas proses yang Masayikh dan Gawagis tekankan ialah menggembleng santri — santri untuk mempeng ngaji. Dari proses ulama memperdalam ilmu alat dengan berbagai metode, ditunjang dengan sanat keilmua yang jelas, baik metode lama ataupun yang baru, metode lama karena talah dirancang ulama salaf, menjadi baru karena dibawa oleh ulama masa kini. Inilah prosesi keilmuan ulama yang tidak bisa diadobsi. Menjadi ulama ialah keniscayaan namun untuk menjadi kiyai itu anugrah dari ilahi robi. Untuk itu para ulama mendesain system dengan sedemikian teliti dan jeli, penuh ilmu tinggi, yang ingsyaAllah menjadi wasilah dalam mencetak kader — kader beliau.
Tidak semua ulama yang berani membuka celah dan menerima semua umat. Menjadi ulama aktif dalam Tarbiyah dan jamaah. Karena ini akan membuka berbagai kemungkinan, namun Muasis dan Gawagis penuh optimis demi kedaulatan umat. Mampu surfaif dalam setiap situasi dan kondisi. Membagun berbagai system, sesuai kultur umat. Mencetak SDM yang mumpuni, kemudian memilihkan kader sesuai sekil dan kemampuan ketrampilan, meragkul semua kalangan. Muasis menugaskan gawagis untuk kalangan pemuda, menjadi Pembina asrama. Dengan bekal ilmu dan jiwa kepemimpinan dan ahlaqul karimah, tidak segan untuk turun lapangan. Mudah bergaul dengan siapa saja, kiraya mampu untuk membangun seistem yang sepesial sejalan dengan era sepesialisasi.
Dibawah asuhan Muasis, mampu merealisasikan apa yang telah beliau rintis dan menggembangkan ilmu beliau. Focus dalam belajar ilmu agama dan berbagai ilmu pengetahuan dengan berbagai sekil keahlian dengan wadah baru, sederhana namun mengena. Mempertahankan kualitas tallim dan tarbiyahnya.

Berkah mondok
Bimbingan yai terhadap santri dengan Ranah talim menjadi Solideritas tampa batas dalam mencerdaskan bangsa, persembahan Indonesia untuk dunia.
Dengan sekuat tenaga sistem pendidikan Nasional terus berinofasi dengan segala daya dan upaya mencerdaskan bangsa, namun peserta didik maish haus akan siraman rohani, ini sagat tidak efektif. Dengan proses yang panjang ini, bagi orang yang mengerti lebih — lebih yai tidak berhenti sampai disini, perlu keberanian untuk menerobos penuh pertimbangan. Dengan kematangan ilmu beliau — beliau memperjuangkan ini, menggandeng pemerintah merangkul rakyat demi mengemban bersama — sama tugas nusa ban bangsa dengan gigih terus membimbing santri — santri, melalui system dan pola masing — masing tokoh. 
Ini ilalah capaian yang luar biasa. Dengan kolektifitas ini, beliau — beliau mampu mempertahankan KBM. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa rizqi poro yai itu tidak pasti, namun maish senatiasa enerjik dalam berjuang. Dengan inilah beliau belau menangkis segala serangan yang akan meruntuhkan tembok peradaban. Demi kemaslahatan uamt, beliau — belaiu rela berjihat dengan tepat sesuai kebutuhan umat. Dengan rahmat Allah SWT. Yang azali semoga terkendali, yang diberikan kepada hambanya yang diridloi, mendapat solusi. Karena secara umum ini belum terpecahkan, dengan riayah poro yai, habaib, poro alim ulama, ini bisa terselesaikan. Atas nama cinta nusa dan bangsa, beliau — beliau mengambil inisiatif, merealisasikan dalam kehidupan. Membimbing santri — santri, menata masyarakat, dengan dinamis penuh optimis, fleksibel dan obektif. 
Tempat — tempat yang telah beliau — beliau bangun, mengunakan system yang berbeda — beda, sesuai kultur tempat. Dengan kolektifitas dan solideritas poro yai dan habaib, yang akan menyelamatkan uamat, yang mengerti akan masa depan umat, untuk itu beliau — beliau membekali umatnya dengan adab dan ilmu. Yang menarik disini ialah kedinamisan beliau beliau, yang menjadikan keistimewaan poro yai dan habaib yang tersembunyi. Tidak tergoyahkan, senantiasa bersama salafuna sholeh namun tetap eksis, bahkan dengan kitab kunig ini beliau — beliau mampu ikut derta dalam perdamaiyan dunia. Dengan demikian esensinya menjaga ajaran salafuna sholih hingga memdapat drajat eksistensi seorang yai. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian uamat, menggali ilmu belaiu — beliau dan meyerahkan pendidikan putra — putrinya, untuk dijadikan anak yan berahlaqul karimah dan berilmu.
Ilmu yang langsung disampaikan oleh shohibul ilmi, akan menghasilakan kualitas yang tinggi. Sesui karakter yang telah dimiliki oleh seorang yai atau habib. Dengan perangai — perngai baik beliau, diantaranya :
a. Keberanian
Dengan keberanian, ilmu yang telah beliau — belaiu miliki akan bertambah, karena menjadi seorng kiyai tidak hanya sesuatu yang tampak, karena bisa jadi menghadapi manusia yang tampak libih sulit ketimbang menghadapai mehluk yang tidak tampak. Lalu apakah yang membuat beliau — beliau sedemikian berani untuk menghadapi apapun, tentu itu bersumber dari sang maha pemberani, sebagai wakil Allah dimuka bumi, dengan hati yang bersinar, pancaran dariNya.
b. berani hidup mikin 
menjadi seorang yai tentu lebih banyak ruginya karena seringnya mengurusi umat, namun dengan sesederhanaan beliau — beliau tetap eksis. Dimasa dahulu Muasis kita haya berkendara sepedah.
c. berani memualai
dengan bekal kedalaman ilmu, seorang yai harus berani untuk memulai perjuangannya. Sebagai mana Muasis kita yang telah dahulu memualai perjuangannya, dengan bekal seadanya bersama — sama santri yang telah beliau bawa.
d. berani berinofasi
sebagai yai muda dahulu Muasis dan para tokoh agama yang lain berinisatif untuk mengejawantahkan nilai — nilai yang telah disampaikan oleh para romo yai sepoh dalam mengembangkan kurikulum sebagai rahmatallilalamin.
d. berani berjihad
Berani mengambil keputusan dengan kedalaman ilmu yang telah beliau — beliau miliki, sebagai mana KH. Affandi dan para sahabatnya yang sowan kepada almagfullah KH. Suhadi ismail untuk membuat kurikulum. Dengan khusnuzonnya beliau kepada para Masayikh penuh optimis untuk mendirikan kurikulum, mengigat kemaslahatan umat, sebagai bentuk ijtihat qodim, kelirupun beliau masih mendapat satu pahala. Terlepas alumunus kurikulum yang kurang optimis untuk mengemban amanah keulamaan menjadi yai dalam merintis sebuah pesantren.
Untuk itu muasis berijtihat kembali membuat semi sistem kurikulum salaf dan umum. Kurikulum formal ialah jalan yang tepat untuk menjalin hubungan setiap umat. Menjadi Indonesia seutuhnay. Dan kurikulum non formal sebagai landasan dasar dalam menggawal terciptanya rahmatan lilalamin. Dengan master yai yang dibantu sahabat dan gawagis. Dengan metode ini ilmu yang beliau miliki dapat berkembang luas, menambah lapangan pekerjaan masyarakat dan yang terpenting mengngokohkan nusa dan bangsa dengan ikut serta mencerdaskan anak bangsa.
c. berani mengkader
sebagai Muasis tentu sangat memperhatikan keberlangsungan pendidikan dan sistem pendidikan. Memberikan kebijakan sesuai porposi, termasuk disaat kekuarangan tenaga pengajar, beliau dengan sigap dan tanggap membentuk sistem Takhosus untuk mencetak santri — santri yang diharapkan mampu mengemban amanah.
Rasa cinta dan kasih saying
Seorang yai sangat memperdulikan umatnya dari kalangan eksekutif, ekonomi, menengah, menengah kebawah, fakir, miskin dan yatim piatu. Rasa cinta kepada umat melebihi segalanya, dalam mendidik santri — santri ialah prioritas, dicurahkan dalam mendidik, membimbing, mengawasi guru, dosen dan santri — santri.
Roan (gotong royong)
Asas gotong royong yang menjunjung tinggi kolektifitas. Dalam berjuang beliau mengikut sertakan sahabat dan masyarakat, membuka peluang untuk waqaf demi kemajuan pendidikan.
Objektif
Untuk menentukan motode dan mengemgangkan sistem seornan yai selalu mendapatkan ide yang cemerlang. Ketika era ini mencapai sepealisasi keilmuan, beliau — beliau terilhami dengan pengembangan sistem dengan membuaka sepesialisasi tertentu bahkan kolaborasi sistem. Akan memperkuat dan diharapkan menjadi system yang efektif dan efetion. Untuk itu beliau menggandeng Gawagis dan para sahabat untuk tugas berat ini.
Berorganisasi
Ini ialah bentuk rasa cinta belaiu kepada nusa dan bangsa, dengan kesibukan dalam membimbing santri — santri, menempatkan untuk mengurus umat dan akan mendirikan gedung Mutamar, sungguh perhatian yang amat dalam beliau kepada negri ini.
Serius dan konsisten
Seorang kiyai sangat serius dan konsisten dalam mengemban amanah. Apabila beliau menerima keluhan dan beliau mampu maka beliau akan serius dan konsisten hingga selesai.
Tulus dan sabar
Semua yang beliau lakukan senantiasa dilandasi dengan ketulusan dan kesabaran bahkan kepada santrinya yang kurang sopan, suatu ketika ada santrinya yang membawa pakan ikan dengan motor, terpleset dan jatuh kedalam kolam, lalu santri itu sepontan mengeluarkan kata — kata kotor, menyaksikan kejadian itu beliau tidak marah dan penuh kesabaran mengigatkan kembali.
Mensyarahi kitab
Meyederhanakan bahasa kitap ialah tugas yang berat, perlu kedalam ilmu dalam memberi keterangan — keterangan nadzom. Ditengah kesibukan belaiu yang padat demi umat. Dengan kapasitas santri yang sangat membutuhkan penjelasan mudah dan gambalng. Menciptakan siklus pendidikan yang tidak akan terputus.
Hubungan Nasional dan Internasional
Suadah menjadi bagian dari seorang yai akan jalinan keduanya baik dalam ranah NU atau ilmu. Yang termasuk menjadi sepesialisasi yai, sepagai manifestasi dari persaudaraan antar uamt dengan kolektifitas dan kridibelitas, jaringan luas, dunyawi ukhrowi. Mengisi kemerdekaan, ikut serta dalam menciptakan perdamaiyan duniya.  

Ijtihat yang kedua
Disinilah Muasis mencurahkan penuh, seluruh perhatian beliau unuk mengakselerasi dunyawi uhkrowi, dengan ilmu dan pengalalman Muasis yang kian luas. Mutholaah beliau bertahun — tahun dengan menampung berbagai aspirasi umat untuk mengembangkan sestem yang telah ada. Unit — unit yang telah beliau dirikan, tidak lepas dari keistikomahan doa dan kerja keras. Sungguh dalam optimis muasis terbias dalam diri santri, hingga senantiasa optimis akan masa depan yang cerah.
Inilah tradisi Ulama turun temurun, dimana beliau pernah digembleng oleh Masayikh beliau untuk senantiasa mentasyarufkan ilmu. Tempat — tempat yang dijadiakan beliau lembaga pendidikan selalu beliau dasari akan ilmu dan pengalaman, ini menjadi tutorial langsung santri — santri akan prosesi yai.
Setelah sekian lama Muasis mengkader santri — santri, yang kiranya telah cukup untuk bersama — sama berkhidmah kalian umat. Setiap hari beliau terjun lapangan membimbing santri — santri. Pagi — pagi petang sudah sipa kerja, membangunkan santri untuk menata lahan serta menempatkan tempat sesuai fungsinya. Membuat akses jalan, gotong royong bersama santri — santri dalam pembangunan Musola. Dengan matrial seadanya. Disela — sela roan penuh makna, tak segan — segan beliau member makan santri — santri, penuh kasih saying. Inilah yang menjadi sepirit santri, menghapus lelah letih. Meski kulit terbakar terik matahari, perlahan menghitam. Doa muasis seakan menancap dalam sanubari, sehingga  Siang malam mereka bekerja tampa keluh dan kesah, hinga tidur tampa atap, pagi basah, tidak menjadai masalah.
Tidak luput dari beliau akan pembekalan ilmu dan uswah, suri tauladan yang baik. Setelah usaha yang penjang hingga Mushola berdiri tegak, beliau dan ibu nyai sholat duha berjamaah, the riel tutorial langsung kepda santri — santri untuk senantiasa berdoa disela — sela kerja kerasnya. Pembentukan karakter yang sebenarnya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Santri dengan pendidikan perguruan tinggi, ditempa dengan kontinyuitas pendidikan realitas karakter. Diharapkan akan menjadi santri — santri yang dapat bersama — sama berkhidmah. Dan ini akan menjadi kekuatan baru Gawagis untuk mengembangkan sisitem. Dengan santri — santri yang telah beliau kader, tentunya menjadi ikatan kuat, dzohiron wa batinan. Satu fisi dan satu misi. Cepat tanggap, dengan kesiapan jiwa dan raga, perlahan menuju totalitas, sudah pantas untuk menerima ilmu baru yang bisa instal sesuai kebutuhan. Baru kemudian bersinerji dengan Gawagis.
Ditengah semangat beliau dalam menuju terselengaranya rancangan yang sekianlam belaiu persiapkan dengan menyusun rapi dan teruji. Orang yang seharusnya senantiasa mendampingi beliau untuk meneruskan dan mengembangkan pesantren, telah berpulang keharibaanNya. Orang yang mampu mengakomodir, mengkomben serta mengembangkan sisitem.
Namun Allah SWT. Melapangkan dada Muasis. Dan sudah menjadi sunatullah akan ujian kiyai sangatlah berat. Berkat rahmat sang maha kuasa, dan didorongnya daengan cita — cita yang luhur, semua terap berjalan. Dan guse bersama gawagis dan para sahabat juga harus siap untuk menjalin hubungan baru, berjuang liilai kalimatillah.
Untuk mgmbangun konektifitas baru, tentu tidak mudah, sebagaimana Muasis merekrut sahabat — sahabat belaiu, bahkan beliau rela menjadi makmum, menyerahkan kepemimpinan kepada sahabatnya, secara umum ini muskil namun dengan optimisme Muasis, dengan tetap membimbing, mengoreksi, tampa mengurangi rasa hormat. Sebagai seorang pendiri, tentu lebih tinggi kepedulianya akan keberlangsunan kegiatan santri, sehinga segala sesuatu yang membantu beliau untuk bersama — sama mensukseskan kegiatan ini, akan beliau dukung sepenuhnya. 
Dengan setetmen beliau, yang menjamin kualitas santri akan tidak kalah dengan santri — santri yang lain, ialah bentuk keseriusan beliau dalam meningkatkan mutu kualitas santri dengan penuh keterbukaan dalam menerima aspirasi. Meluangkan waktu, mencurahkan tenaga dan pikiran, harta benda, demi terciptanya cita — cita yang mulya ini. Sedangkan yai tidak mengenal gaji, hanya rizqi yang tidak di sangka — sangka dari ang penciptalah yang mencukupi, dengan pola hidup sederhana dengan cara yang sederhana beliau mendapat karunia.
Secara matrial maunkin beliau tidak bisa surfaif pada keadaan tertentu, namun dengan maunah beliau tetap betah disegala rungan dan waktu dalam menembus batas. Dengan haliyah, amaliyah, kontinyuitas, dan kolektifitas, sehingga terselenggaralah pengembangan sistem yang mampu membekali santri — santri di era yang akan datang. Menjadi asbabul futuh, terbukanya hati santri dalam menemukan jati diri.
Capaiyan tinggi seorang yai, menghantarkan santri keharibaan Ilahirobi, yang tidak dimiliki kecuali oleh satuan Kiyai, dengan ketawaduan, menyimpan rapai pola pengajaran khusus. Dan enggan menonjolkan diri, karena ini sudah menjadi karakter seorang Kiyai, seberapa dalam tersimpan, kebaiakn akan senantiasa bersinar dan orang — orang yang membutuhkan cahaya akan segera berdatangan.
Cahaya yang terang itu sudah bersemayam dalam putra beliau, yang perlahan diberikan kepada santri — santri, konektifitas cahaya local akan menjadi lebih terang. Menyatukan kekuatan alumni dan Gawagis akan menjadi sinergi baru dalam menerangi kegelapan.
Sinegi antar unit (al umami)
Dengan sepesialisasi dalam ilmu agama, diharapkan akan melengkapi dan memperkuat sisitem dengan kolektifitas dan konektifitas yang falit, sebagaiman yang telah dilakukan oleh Muasi dan para sahabat yang telah mencetak santri — santri yang sudah siap untuk di ajak berkhidmah. Kepercayaan yang telah diberkan kepada Muasis telah di emban dengan semaksimal mungkin, dengan setruktural, cultural dan fleksibel.
Paduan local dan internasional
Menjalin hubungan international dengan tetap menjaga kearifan local, untuk menggambil metode baru dan mempertahankan budaya lama yang baik ialah eksistensi dari sebuah sistem yang berlangsung berabad — abad. Bahkan dengan akses international kearifan local bisa tersampaikan.
Uswah
Sifat yang melekat dalam diri poro yai dan habaib ialah uswatun hasanah, dari segi talim, muasyaroh, haliyah, amaliyah dan lain — lain. Ketika Muasis melihat santri kurang tekun dalam beribadah, beliau memberi teguran berupa uswah, mencontohkan bagaimana beribadah yang baik dan benar, dengan sengaja membaca wirid usai sholat maktubah didepan santri yang kurang dalam beribadah. Tampa kata, namun mengena, teguran yang halus nan tulus.
Motifator 
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa seorang yai sebagi gudang ilmu dan pengetahuan. Muasis bukan sekedar interpenur, bahkan beliau mampu memberikan uswah untuk senantiasa surfaif, dengan membekali mereka dengan ilmu, sekil dan praktek lapangan. Sehingga santri tidak ada keraguan dalam melangkah. Beliau ialah tipe Kiyai yang senantiasa memberikan motifasi kepada santri. Sehingga tumbuh menjadi santri yang briliyan penuh keimanan.
Produktif 
Nurul Huda yang menjadi karya terbesar Muasis sebagai bentuk kolektifitas, yang tidak terlepas dari agenda — agenda besar didalamnya, dan tentu memerlukan sistem yang kuat. Untuk itu beliu menyusun sendiri hal — hal yang penting sampai yang terpenting. Diantaranya ilmu alat yang menjadi materi dasar mahad.
Memberikan syarah seribu nadzom, bukanlah hal yang mudah, ditengah kesibukan yang padat. Dan mengikutsertakan Gawagis dan santri — santri dalam pengetikan dalam keadaan suci. Dengan mengetik otomatis sambil membaca. Dengan membaca dan mengetik perlahan akan memahami mana, mengulang materi pelajaran. Sebagai pengajar yang professional Muasis tentu kapasitas kemampuan santri, untuk itu beliau meyederhanakan bahasa kitab.
Sastrawan 
Dengan penguasaan ilmu Mantiq dan Balagoh yang matang, modal Muasis dalam penguasaan bahasa dan sastra, hingga menghasilkan karya yang agung. Beliau juga mashur akan kepiawaian dalam merngkai bahasa dalam pidato — pidatonya, bahkan dalam doa — doa yang beliau panjatkan, dengan sastra yang tinggi.
Seorang Profesor
Karya yang fenomenal yang mengikut sertakan santri — santri dalam tasyarufil ilmi, ini ialah sistem baru dalam ranah pendidikan, menciiptakan siklus pengajaran yang baru pula. Dengan mendudukan pola local, bersinergi dengan sisitem internasional, sebagai sumber ilmu dan pengetahuan dalam menyongsong masa depan. Membekali santri — santri dalam berkreasi sehingga mampu menjadi santri kreatif kompetitifs, dalam mencapai eksistensi pendidikan.
Berhidmah kepada Negri
Dengan kontribusi beliau yang tinggi akan Negeri, menjadi pahlawan nusa tampa tanda jasa, doa — doa beliau, habaib dan poro yai yang lain dalam keberlangsungan Indonesia aman tentram dan damai, berada posisi paling depan dalam memperjuangkan negri ini. Menjadi agenda besar poro yai dalam menata rapi msyarakat dengan daerah masing — masing yang mencakup ekonomi, politik hingga kehidupan social. Mengembangkan daerah otonomi, membuka lapangan pekerjaan.
Menjadi tumpuhan masyarakat
Dengan berbagai macam tipe masyarakat, menjadi tempat yang tepat untuk berkonsultasi, menyelesikan masalah tampa masalah, mengenalkan Allah SWT. Serta memberikan jalan keluar. Menuntun umat dengan jalan yang halus, berupa haliyah, amaliyah dan uswatun hasanah. Dengan tahlil dan istigosah serta doa beliau yang menopang semua keluh kesah masyarakat, dikalam uamat mersa kebingungan, poro yai dan habaib member arahan serta jalan yang tepat. Dengan membekali keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Akan menjadi pribadi yang percaya diri dalam menghadapi dunia ini.
Inilah bukti kekuasaan Allah SWT. Yang di anugrahkan kepada poro yai dan habaib dalam menyelesaikan persoalan umat, bibarkati tahlil, istigosah dan sholawat kepada baginda Rosulillah saw.yang berupa maulid atau qosidah, dengan dahsyatnya menjadikan berbagai bencana menjadi kekuatan baru untuk bangkit menjadi Negara yang kuat.
Berkat rahmat Allah SWT. Dan diiringi dengan cita — cita yang luhur, doa — doa beliau dengan tawasul, tahlil, istigosah dan mauld dikabulkan dan diridloi oleh Allah SWT. Dipermudah dalam meneruskan perjuangn poro Masayikh. Mempertahankan aqidah ahlusunah waljamaah, yang telah berdiri tegak berabad — abad. Yang mampu mengakomodasi berbagai macam suku dan bangsa. Untuk itu poro yai dan habaib senantiasa memperjuangkan aqidah ahlusunah untuk perdamaiyan dunia. Beliau — beliau berkomitmen bawa Aswaja ialah bentuk kongkrit rahmatan lilalamin, memenuhi permintaan Negara — Negara laian akan mengadopsi pancasila sebagai acuan sistem hukum kenegaraan.
Memiliki rahasia dengan sang maha kuasa
Seorang kiyai memliki hubungan hkusus dengan Allah SWT. memiliki cakrawala yang luas, memiliki pertimbangan yang matang, terbuka penuh etika. Memiliki ikatan batin dengan poro yai yang telah mendahului. 

alunuha

بسم الله الرحمن الرحيم Proses isolasi yang panjang , kami hnya keluar beberapa waktu untuk beberapa kali pertemuan. sedangkan grafik program...